Friday, June 16, 2017

Tugas Online 5 Filsafat Manusia

JEAN PAUL SARTRE

Jean Paul Sartre adalah seorang filsuf dan penulis asal Perancis, dan dikenal sebagai pengembang aliran eksistensialisme. Pemikiran Sartre tertuang dalam bentuk tulisan  L’Existentialisme est un humanism. Pemikiran Satre mengenai manusia dan kebebasannya dapat dipahami melalui pemahamannya mengenai eksistensi dan esensi manusia. Sartre memiliki kepercayaan eksistensi mendahului esensi; usaha untuk menjelaskan kenyataan adanya manusia tidak sama dengan kenyataan adanya benda-benda. Beradanya manusia disebut Sartre dengan istilah ─Śrtre pour-soi, being for itself, cara berada yang terbuka, dinamis, dan dengan kesadaran subyektif. Suatu kenyataan yang berbeda dengan benda-benda yang cara beradanya diistilahkan Sartre dengan ─Śrtre en-soi. Yang dimaksudkan dengan cara berada seperti ini adalah cara berada yang bersifat tertutup, statis, pasif, dan tanpa kesadaran.

Sartre berpendapat bahwa hakikat manusia adalah kebebasan dan kebebasan manusia itu bersifat mutlak dan hanya dimiliki oleh manusia semata. Kebebasan merupakan suatu kemutlakkan karena inilah yang menjadi syarat bagi pengembangan dan pembangunan diri manusia. Human rality is free, bassically and completely free. Semua manusia harus memilih dan mengambil keputusan walaupun tanpa penentuan yang otoritatif. Pengambilan keputusan berkaitan langsung dengan penentuan esensi manusia itu sendiri.

Manusia adalah individu yang lebih dahulu bereksistensi dan kemudian ia sendiri menentukan esensinya dengan membuat pilihan-pilihan bebas atas pelbagai kemungkinan yang dihadapinya. Manusia bebas menentukan apa yang menjadi esensi dirinya. Dan penentuan ini dilakukannya dengan membuat pilihan-pilihan. Akan tetapi, kebebasan membuat pilihan ini disertai dengan rasa takut yang mendalam, karena dengan pilihan itu  manusia menyatakan tanggung jawabnya bukan terhadap dirinya sendiri tapi juga terhadap orang-orang lain. Manusia bertanggung jawab atas keseluruhan eksistansi dirinya dan bertanggung jawab pula atas semua manusia, karena manusia terus menerus akan memilih. Dengan memilih diri sendiri sekaligus manusia juga memilih untuk orang lain.

Dalam kaitan dengan sesama manusia, eksistensi manusia harus memperhitungkan kebebasan orang lain. Manusia tidak boleh membuat kebebasan menjadi tujuan tanpa sekaligus berbuat hal yang sama dengan kebebasan orang lain. Saya adalah bebas tetapi dalam kebebasan saya  sepantasnya memberikan peluang juga kepada orang lain untuk mengungkapkan kebebasannya. Sartre pernah menyebutkan orang lain sebagai “neraka”, tetapi ia juga menginginkan suatu ikatan dan akhirnya menemukan orang lain sebagai syarat untuk eksistensinya sendiri. Dalam kaitan dengan ini, ia pernah menyampaikan pandangannya tentang relasi dengan orang lain sebagai berikut: hakekat relasi-relasi antara manusia ternyata adalah konflik: orang lain membuat saya menjadi obyek atau saya membuat hal yang sama pada orang lain. Manusia hanya akan lebih dekat satu dengan yang lain kalau bergabung melawan orang ketiga, karena dengan demikian akan muncul “kita” yang obyektif. Konteks pandangannya merupakan kritik kepada kenyataan hidup yang terbelenggu dalam kebiasaan menjadikan orang lain sebagai obyek yang berfungsi sebagai sarana pengembangan diri sendiri.

Sartre menolak kenyataan adanya Tuhan. Seandainya Tuhan ada, maka Dia akan merupakan identitas penuh dari ada dan kesadaran. Ia memilih secara sadar jalan hidupnya sebagai Atheis. Jika ada Tuhan yang Mahatahu dan Mahakuasa, maka segala yang bukan Tuhan adalah ciptaan-Nya. Dia menolak bahwa dalam diri Tuhan terdapat semacam rencana penciptaan esensi benda-benda, termasuk esensi manusia yang  telah ditentukan. Dia menolak bahwa manusia tidak dapat berubah secara hakiki dan tidak dapat mencapai taraf tinggi daripada yang ditentukan Tuhan. Dalam konteks kebebasan, manusia tidak mungkin menentukan secara bebas kehidupnya jika ia harus bertindak sesuai dengan intervensi dari Tuhan. Manusia adalah kebebasan sehingga ia sendiri yang menentukan esensinya dan bukan esensi itu sudah ada pada Tuhan sebelum manusia bereksistensi.

No comments:

Post a Comment